Sabtu, 05 November 2011

sejarah Taman Hek, Condet, Batu Ampar, Cililitan, sampe Cawang

TAMAN HEK

Tempat yang terletak antara Kantor Kecamatan Kramatjati dan kantor Polisi Resor Kramatjati, sekitar persimpangan dari jalan Raya Bogor ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terus ke Pondokgede, dikenal dengan nama Hek. Rupanya, nama tersebut berasal dari bahasa Belanda. Menurut Kamus Umum Bahasa Belanda – Indonesia (Wojowasito 1978:269), kata hek berarti pagar. Tetapi menurut Verklarend Handwoordenboek der Nederlandse Taal (Koenen- Endpols, 1946:388), kata hek dapat juga berarti pintu pagar.
keramat jati tempo dulu
Dari seorang penduduk setempat yang sudah berumur lanjut, diperoleh keterangan, bahwa di tempat itu dahulu memang ada pintu pagar, terbuat dari kayu bulat, ujung – ujungnya diruncingkan, berengsel besi besar, bercat hitam. Pintu itu digunakan sebagai jalan keluar – masuk kompleks peternakan sapi, yang sekelilingnya berpagar kayu bulat. Kompleks peternakan sapi itu dewasa ini menjadi kompleks Pemadam Kebakaran dan Kompleks polisi Resort Keramatjati. Sampai tahun tujuh puluhan kompleks tersebut masih biasa disebut budreh, ucapan penduduk umum untuk kata boerderij, yang berarti kompleks pertanian dan atau peternakan. Kompleks peternakan tersebut merupakan salah satu bagian dari Tanah Partikelir Tanjoeng Oost, yang pada masa sebelum Perang Dunia Kedua terkenal akan hasil peternakannya, terutama susu segar untuk konsumsi orang – orang Belanda di Batavia.


CONDET
condet tempo dulu

Kawasan Condet meliputi tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Batuampar, Kampung Tengah (dahulu disebut Kampung Gedong), dan Balekambang termasuk wilayah Kecamatan Kramatjati, Kotamadya Jakarta Timur. Nama Condet berasal dari nama sebuah anak sungai Ci Liwung, yaitu Ci Ondet. Ondet, atau ondeh, atau ondeh – ondeh, adalah nama pohon yang nama ilmiahnya Antidesma diandrum Sprg.,termasuk famili Antidesmaeae (Fillet, 1888:128), semacam pohon buni, yang buahnya biasa dimakan.
Data tertulis pertama yang menyinggung – nyinggung Condet adalah catatan perjalanan Abraham van Riebeeck, waktu masih menjadi Direktur Jenderal VOC di Batavia ( sebelum menjadi Gubernur Jendral ). Dalam catatan tersebut, pada tanggal 24 September 1709 Van Riebeck beserta rombongannya berjalan melalui anak sungai Ci Ondet “Over mijin lant Paroeng Combale, Ratudjaja, Depok, Sringsing naar het hooft van de spruijt Tsji Ondet”,..(De Haan 1911: 320).
Keterangan kedua terdapat dalam surat wasiat Pangeran Purbaya, yang dibuat sebelum berangkat ke pembuangan di Nagapatman, disahkan oleh Notaris Reguleth tertanggal 25 April 1716. Dalam surat wasiat itu antara lain tertulis, bahwa Pangeran Purbaya menghibahkan beberapa rumah dan sejumlah kerbau di Condet kepada anak – anak dan istrinya yang ditinggalkan (De Haan, 1920:250).
Keterangan ketiga adalah Resolusi pimpinan Kompeni di Batavia tertanggal 8 Juni 1753, yaitu keputusan tentang penjualan tanah di Condet seluas 816 morgen (52.530 ha), seharga 800 ringgit kepada frederik willem Freijer. Kemudian kawasan Condet menjadi bagian dari tanah partikelir Tandjoeng, Oost, atau Groeneveld (De Haan 1910:51).


BATU AMPAR
batuampar tempo dulu

Batu Ampar yang merupakan bagian dari kawasan Condet, bahkan biasa disebut Condet Batuampar, dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Batuampar, Kecamatan Keramatjati, Kotamadya Jakarta Timur. Wilayah kelurahan Batuampar di sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kelurahan Balekambang, (lengkapnya Condet Balekambang), yang dalam sejarahnya berkaitan satu sama lain.
Ada legenda yang melekat pada nama tempat tersebut sebagaimana diceritakan oleh orang – orang tua di Condet kepada Ran Ramelan, penulis buku kecil berjudul Condet, sebagai berikut.
Pada jaman dulu ada sepasang suami istri, namanya Pangeran Geger dan Nyai Polong, memeliki beberapa orang anak. Salah seorang anaknya, perempuan, diberi nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Waktu Maemunah sudah dewasa dilamar oleh Pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makasar yang tinggal di sebelah timur Condet, untuk salah seorang anaknya, bernama Pangeran Astawana.
Supaya dibangunkan sebuah rumah dan sebuah tempat bersenang – senang di atas empang, dekat kali Ciliwung, yang harus selesai dalam waktu satu malam. Permintaan itu disanggupi dan terbukti, menurut sahibulhikayat, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di sebuah empang di pinggir kali Cliwung, sekaligus dihubungkan dengan jalan yang diampari dengan batu, mulai dari tempat kediaman keluarga Pangeran Tenggara .
Demikianlah, menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut Batuampar, dan bale (Balai) peristirahatan yang seolah – olah mengambang di atas air kolam dijadikan nama tempat . Balekambang.
Pada awal abad keduapuluh di Batuampar terdapat perguruan silat yang dipimpin antara lain oleh Maliki dan Modin (Pusponegoro, 1984, IV:295). Pada tahun 1986, seorang guru silat di Batuampar, Saaman, terpilih sebagai salah seorang tenaga pengajar ilmu bela diri itu di Negeri Belanda, selama dua tahun. Tidak mustahil, kemahiran Saaman sebagai pesilat, sehingga terpilih menjadi pengajar di mancanegara itu, adalah kemahiran turun – temurun.


CILILITAN
cililitan tempo dulu

Kawasan Cililitan dahulu terbentang dari sungai Ci Liwung di sebelah barat, sampai sungai Ci Pinang di sebelah timur. Sebelah selatan berbatasan dengan kawasan Kampung Makasar dan Condet. Di sebelah utara berbatasan dengan kawasan Cawang . Bagian sebelah barat Jalan Dewi Sartika sekarang sebatas simpangan Jalan Kalibata, biasa disebut Cililitan Kecil, sedangkan yang terletak disebelah timur Jalan Raya Bogor, dikenal dengan nama Cililitan Besar. Dewasa ini nama Cililitan dijadikan nama kelurahan, Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramatjati, Kotamadya Jakarta Timur.
Nama Cililitan diambil dari nama salah satu anak sungai Ci Cipinang. Dewasa ini anak sungai tersebut sudah tidak ada lagi bekas – bekasnya. Kata ci, adalah bahasa Sunda, mengandung arti “air sungai” Lilitan lengkapnya lilitan – kutu, adalah nama semacam perdu yang bahasa ilmiahnya Pipturus velutinus Wedd., termasuk famili Urticeae (Fillet 1888:201).
Pada pertengahan abad ke- 17 kawasan Cililitan merupakan bagian dari tanah partikelir Tandjoeng Oost, ketika masih dimiliki oleh Pieter van der Velde (De Haan 1910:50). Kemudian beberapa kali berpindah pindah tangan. Sampai diganti namanya menjadi lapangan Udara Halim Perdanakusumah. Lapangan udara tersebut biasa disebut Lapangan Udara (vliegeld, kata orang Belanda) Cililitan.


CAWANG

Kawasan Cawang dewasa ini menjadi sebuah kelurahan Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramatjati, Kotamadya Jakarta Timur.
cawang 1993
Nama kawasan tersebut berasal dari nama seorang Letnan Melayu yang mengabdi kepada Kompeni, yang bermukim disitu bersama pasukan yang dipimpinnya, bernama Enci Awang.(Awang, mungkin panggilan dari Anwar). Lama – kelamaan sebutan Enci Awang berubah menjadi Cawang. Letnan Enci Awang adalah bawahan dari Kapten Wan Abdul Bagus, yang bersama pasukannya bermukim dikawasan yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Melayu, sebelah selatan Jatinegara.
Kurang jelas, apakah sebagian atau seluruhnya, pada tahun 1759 Cawang sudah menjadi milik Pieter van den Velde, di samping tanah – tanah miliknya yang lain seperti Tanjungtimur atau Groeneveld, Cikeas, Pondokterong, Tanjungpriuk dan Cililitan (De Haan, 1910:50).
Pada awal abad ke-20 Cawang pernah menjadi buah bibir, karena disana bermukim seorang pesilat beraliran kebatinan, bernama Sairin, alias Bapak Cungok. Sairin dituduh oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai dalang kerusuhan di Tangerang pada tahun 1924. Di samping itu. Ia pun dinyatakan terlibat dalam pemberontakan Entong Gendut, di Condet tahun 1916. Condet pada waktu itu termasuk bagian tanah partikelir Tanjung Oost (Poesponegoro 1984, (IV):299 – 300).






Sumber: De Haan 1935: Van Diesen 1989 versi translete bahasa indonesia

17 komentar:

  1. Oohhh jangan2 nama tanjung barat ntuh ada hubungannya sama tanjung oost yaak?

    BalasHapus
  2. Oohhh jangan2 nama tanjung barat ntuh ada hubungannya sama tanjung oost yaak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tanjung barat itu dulu nama kerajaan Tanjung Jaya....https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tanjung_Barat,_Jagakarsa,_Jakarta_Selatan

      Hapus
  3. Resep bangat baca nya.. Tambahin lagi bang, nambahin ilmu..

    BalasHapus
  4. mantep infonye, walau sayang masih banyak yang kurang detil nyeritainnya :-) ... keep it up!

    BalasHapus
  5. Mengingatkan kembali masa kecil. Lahir (Cililitan), SD 01 Balekambang -1974, SMP N 49 - 1977 (kawasan Hek), STM Perkapalan Nusantara 1981 (kampung Gedong).
    1984 hingga kini Pontianak Kalimantan Barat.
    Terimakasih, "Aku rindu masa lalu"

    BalasHapus
    Balasan
    1. SMPN 49 Angkatan 1977? Kenal Ibu Beti?

      Hapus
    2. SMPN 49 Angkatan 1977? Kenal Ibu Beti?

      Hapus
    3. Ya ibu betty pengajar ekonomi,,yg agak galak itu,,pelatih pramuka waktu aku skolah thun 2013,,

      Hapus
    4. Ya ibu betty pengajar ekonomi,,yg agak galak itu,,pelatih pramuka waktu aku skolah thun 2013,,

      Hapus
  6. Jadi tau deh ceritanya...makasi infonya..

    BalasHapus
  7. Mantap nih ... buat referensi anak cucu kita

    BalasHapus
  8. Suka bangetttt sejarah kakek mertua merupakan jawara cawang bersama engkong sairin

    BalasHapus
    Balasan
    1. OOOh... masih anak keturunannya yach... walau pun mantu dari cucu engkong sairin.. kalo ada photonya boleh tuh buat dijadikan bagian dari pejuang kemerdakaan

      Hapus
  9. Sangat bermanfaat....thanks artikelnya gan!
    Sekedar menambahkan:

    1. Kantor Polisi yang berada di gerbang depan kawasan pertanian Hek tersebut sekarang bernama Kantor Polsek Ciracas. Kantor Polsek Kramat Jati sendiri (setelah dipisahkan dengan Polsek Pinang Ranti) sekarang lokasinya persis ada di depan pintu masuk Komplek Pampres Kelurahan Kampung Tengah, yang lokasinya ada di seberang jalan Polsek Ciracas yang sekaligus juga sebagai salah satu pintu masuk menuju kawasan Condet dengan nama Jl. Inpres (Jl. Raya Inpres).

    2. Untuk penyebutan istilah atau nama Budreh/Boerderij (artinya: tanah peternakan/tanah pertanian) pada sekitar era tahun '80-'90 an berkembang menjadi Boedray, entah apa penyebab atau maksudnya. Lokasi utama nya sendiri, selain sekarang telah menjadi Kantor Polsek Ciracas, dibelakang Kantor Polsek tersebut juga telah menjadi Komplek Perumahan Anggota POLRI terutama Anggota Polsek Ciracas.

    Mudah-mudahan tambahan dari saya bermanfaat, mohon dikoreksi jika salah. Terima kasih.

    Salam

    Ade Supriyatna
    www.digmapartner.com

    BalasHapus
  10. Seger bener baca nya ...
    Sejarah hal yg terpenting buat generasi sekarang dan nanti .
    Lanjut kaang ...

    BalasHapus